Assalaamualaikum
kumpulan Skripsi, Tesis, Disertasi, Penelitian Tindakan Kelas, Makalah, MP3, Perangkat Pembelajaran, serta Ebook ini Hanya sebagai Referensi, bukan untuk di Jiplak atau di Contek, Segala Akibat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan di luar tanggung jawab Kami..
Jika anda berminat dengan referensi yang ada pada kami silahkan kirim email ke pusatilmiah@gmail.com, jika ingin lebih cepat ditanggapi silahkan hubungi 085793453975
terima kasih
wassalamualaikum
Senin, 17 Maret 2014
Senin, 17 Februari 2014
Makna Fithrah Manusia dalam Al-Qur'an dan Aktualisasinya dalam Pendidikan Islam (Telaah Tafsir Tematik Perspektif Pendidikan Islam)
Dari berbagai uraian panjang dan analisis yang telah penulis tampilkan pada bab-bab terdahulu dalam skripsi ini, akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada dasarnya secara definitif, makna fithrah manusia yang terkandung dalam al-Qur'an adalah penciptaan awal mula atau kejadian asal. Akan tetapi setelah diadakan upaya penafsiran oleh para mufassir, sehingga pada akhirnya ditemukan beberapa makna fithrah manusia yang terkandung di dalamnya diantaranya: fithrah berarti suci (thuhr), Islam (Dienul Islam), mengakui ke-Esa-an Allah (al-Tauhid), murni (al-Ikhlas), potensi dasar manusia untuk ma'rifatullah, dan fithrah berarti tabi'at alami yang dimiliki manusia (Human Nature) yang kemudian oleh penulis diambil kesimpulan bahwa pada prakteknya fithrah bukan sekedar peng-Esa-an terhadap Allah dan pengakuan terhadap agama Allah semata, akan tetapi lebih komplek dari pada itu bahwa fithrah adalah segenap potensi yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia untuk bekal kekhalifahannya di dunia.
2. Dari sudut pandang pendidikan, karena fithrah itu harus berinteraksi dan berdialog dengan lingkungan eksternal, Maka agar mampu berdialog memerlukan suatu lembaga yang lebih kondusif untuk mengaktualisasikan serta menumbuh kembangkan fithrah tersebut. Dengan demikian pendidikan dipandang sebagai sebuah upaya yang paling strategis untuk mengarahkan fithrah itu secara optimal dan terpadu sepanjang hayatnya.
Konsep fithrah juga menuntut agar pendidikan Islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan kepada terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah agar segalanya bisa bernilai ibadah.
Selain itu sebagai upaya untuk mendukung perkembangan fithrah manusia diperlukan penciptaan lingkungan yang kondusif secara berkesinambungan, baik dari pihak keluarga sekolah maupun masyarakat.
Manusia beriman yang paling ideal adalah apabila dalam kehidupannya terdapat keserasian dan keseimbangan antara kedalaman penghayatan agama dengan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan. Maka manusia yang mengatakan dirinya Islam, dia harus lebih dinamis dan maju dalam kehidupannya.
Dalam rangka mengupayakan agar manusia tetap "survive", maka harus ada korelasi yang nyata antara keimanan, ketakwaan dengan kegairahan dalam mengupayakan kesejahteraan hidup. Hal inilah yang menjadi pendorong atau motifasi tumbuhnya "kerja" atau semangat kerja dengan istilah "Etos Kerja". Kerja atau amal harus diniati untuk mengabdi kepada Allah (li ta'abbudi ila Allah), berangkat dari itulah maka kerja bisa bernilai ibadah, oleh karenanya iman dan takwa harus dihayati dengan sungguh-sungguh agar dapat menumbuhkan sikap kerja atau amal dengan penuh kesungguhan, disiplin, tertib dan bertanggung jawab.
Hal ini tersirat makna bahwa manusia dituntut untuk mendayagunakan potensi dasarnya (fithrah), agar di dalam mendayagunakan potensinya bisa mencapai batasan yang ditetapkan (target) dengan sukses, maka manusia harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh (etos kerja) yang dilandasi dengan motifasi agama, agar semua itu dapat bernilai ibadah
1. Pada dasarnya secara definitif, makna fithrah manusia yang terkandung dalam al-Qur'an adalah penciptaan awal mula atau kejadian asal. Akan tetapi setelah diadakan upaya penafsiran oleh para mufassir, sehingga pada akhirnya ditemukan beberapa makna fithrah manusia yang terkandung di dalamnya diantaranya: fithrah berarti suci (thuhr), Islam (Dienul Islam), mengakui ke-Esa-an Allah (al-Tauhid), murni (al-Ikhlas), potensi dasar manusia untuk ma'rifatullah, dan fithrah berarti tabi'at alami yang dimiliki manusia (Human Nature) yang kemudian oleh penulis diambil kesimpulan bahwa pada prakteknya fithrah bukan sekedar peng-Esa-an terhadap Allah dan pengakuan terhadap agama Allah semata, akan tetapi lebih komplek dari pada itu bahwa fithrah adalah segenap potensi yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia untuk bekal kekhalifahannya di dunia.
2. Dari sudut pandang pendidikan, karena fithrah itu harus berinteraksi dan berdialog dengan lingkungan eksternal, Maka agar mampu berdialog memerlukan suatu lembaga yang lebih kondusif untuk mengaktualisasikan serta menumbuh kembangkan fithrah tersebut. Dengan demikian pendidikan dipandang sebagai sebuah upaya yang paling strategis untuk mengarahkan fithrah itu secara optimal dan terpadu sepanjang hayatnya.
Konsep fithrah juga menuntut agar pendidikan Islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan kepada terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah agar segalanya bisa bernilai ibadah.
Selain itu sebagai upaya untuk mendukung perkembangan fithrah manusia diperlukan penciptaan lingkungan yang kondusif secara berkesinambungan, baik dari pihak keluarga sekolah maupun masyarakat.
Manusia beriman yang paling ideal adalah apabila dalam kehidupannya terdapat keserasian dan keseimbangan antara kedalaman penghayatan agama dengan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan. Maka manusia yang mengatakan dirinya Islam, dia harus lebih dinamis dan maju dalam kehidupannya.
Dalam rangka mengupayakan agar manusia tetap "survive", maka harus ada korelasi yang nyata antara keimanan, ketakwaan dengan kegairahan dalam mengupayakan kesejahteraan hidup. Hal inilah yang menjadi pendorong atau motifasi tumbuhnya "kerja" atau semangat kerja dengan istilah "Etos Kerja". Kerja atau amal harus diniati untuk mengabdi kepada Allah (li ta'abbudi ila Allah), berangkat dari itulah maka kerja bisa bernilai ibadah, oleh karenanya iman dan takwa harus dihayati dengan sungguh-sungguh agar dapat menumbuhkan sikap kerja atau amal dengan penuh kesungguhan, disiplin, tertib dan bertanggung jawab.
Hal ini tersirat makna bahwa manusia dituntut untuk mendayagunakan potensi dasarnya (fithrah), agar di dalam mendayagunakan potensinya bisa mencapai batasan yang ditetapkan (target) dengan sukses, maka manusia harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh (etos kerja) yang dilandasi dengan motifasi agama, agar semua itu dapat bernilai ibadah
Manusia Super (Study Komparatif Perspektif Friedrich Wilhelm Nietzsche dan Muhammad Iqbal)
Istilah manusia sempurna dalam khazanah Islam dikenal pada abad ketujuh Hijriah dan digunakan pertama kali di dunia Islam oleh seorang sufi yang masyhur yaitu Muhyiddin Arabi al-Andalusi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Arabi. Ia menggunakan istilah "manusia sempurna" atau insan kamil dari perspektif tasawuf. Istilah ini selanjutnya mendapat perhatian khusus dari al-Jilli, yang mengembangkan konsep tersebut dalam karya tersendiri, al-insan al-kamil. Penulis, dalam penelitian ini tidak terlalu jauh mengomentari gagasannya. Penulis hanya akan membahas dari sudut pandang filosofis tentang konsep manusia super yang dalam kajian ini menganalisis pemikiran Nietzsche tentang Ubermensch dan pemikiran Iqbal tentang Manusia Ideal yang Kreatif sebagai konsepsi tentang manusia sempurna. Sehingga pemahaman tentang manusia sempurna mencakup ranah filsafat, yaitu filsafat Barat dan filsafat Islam. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research), karena hasil yang ditemukan adalah analisis terhadap buku-buku yang dijadikan sumber oleh penulis-yang mana dalam menganalisis data penulis menggunakan metode deskriptif, content analysis-di sini penulis berusaha menganalisis substansi pemikiran Muhammad Iqbal dan Nietzsche yang terdapat dalam berbagai karyanya yang mempunyai relevansi dengan topik penelitian dan metode komparati-metode ini diaplikasikan dengan cara membandingkan pemikiran Nietzsche dan Muhammad Iqbal. Dari perbandingan ini dapat ditemukan persamaan dan perbedaan masing-masing pemikiran Nietzsche dan Muhammad Iqbal tentang manusia super.
Menurut Nietzsche, Ubermencsh atau manusia super adalah manusia yang tanpa ada ikatan dari Tuhan yang pada akhirnya dapat menghambat potensi manusia dalam kehendak berkreasi. Manusia super adalah manusia yang sudah sanggup menerima berita kematian Tuhan. Dengan matinya Tuhan, maka akan terbuka suatu daerah yang tidak bertuan yang harus dikuasai. Tanpa Tuhan manusia menjadi amat individual, sebab tidak ada lagi ikatan bersama. Hal ini akan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menentukan dirinya. Manusia yang mempunyai kehendak untuk berkuasa (will to power) tidak perlu lagi adanya Tuhan. Karena will to power berisi kekuasaan, Tuhan dan lain sebagainya. Orang yang sudah melewati ini adalah Ubermencsh. Manusia siapapun itu adalah Ubermencsh ketika berfikir; sejauh dia mampu memformal will to power. Urusan benar dan salah adalah bagaimana will to power berkuasa. Ubermencsh adalah orang yang sudah punya kuasa penuh. Bagi Iqbal, manusia super adalah manusia yang dapat menyerap sifat-sifat Tuhan. Manusia di jadikan Tuhan sebagai makhluk pilihan karena dia memiliki ego. Manusia dalam pandangan Iqbal adalah makhluk yang di satu pihak-dengan seluruh kreatifitas yang ada pada dirinya-hendak membangun kerajaan Tuhan di bumi sebaik mungkin, dan di pihak lain, unsur rohaninya di mana egonya ikut menghayati kehidupan dan kemerdekaan Ego terakhir sehingga mendapat bimbingan-Nya dan pada akhirnya menjadi hamba yang saleh
Menurut Nietzsche, Ubermencsh atau manusia super adalah manusia yang tanpa ada ikatan dari Tuhan yang pada akhirnya dapat menghambat potensi manusia dalam kehendak berkreasi. Manusia super adalah manusia yang sudah sanggup menerima berita kematian Tuhan. Dengan matinya Tuhan, maka akan terbuka suatu daerah yang tidak bertuan yang harus dikuasai. Tanpa Tuhan manusia menjadi amat individual, sebab tidak ada lagi ikatan bersama. Hal ini akan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menentukan dirinya. Manusia yang mempunyai kehendak untuk berkuasa (will to power) tidak perlu lagi adanya Tuhan. Karena will to power berisi kekuasaan, Tuhan dan lain sebagainya. Orang yang sudah melewati ini adalah Ubermencsh. Manusia siapapun itu adalah Ubermencsh ketika berfikir; sejauh dia mampu memformal will to power. Urusan benar dan salah adalah bagaimana will to power berkuasa. Ubermencsh adalah orang yang sudah punya kuasa penuh. Bagi Iqbal, manusia super adalah manusia yang dapat menyerap sifat-sifat Tuhan. Manusia di jadikan Tuhan sebagai makhluk pilihan karena dia memiliki ego. Manusia dalam pandangan Iqbal adalah makhluk yang di satu pihak-dengan seluruh kreatifitas yang ada pada dirinya-hendak membangun kerajaan Tuhan di bumi sebaik mungkin, dan di pihak lain, unsur rohaninya di mana egonya ikut menghayati kehidupan dan kemerdekaan Ego terakhir sehingga mendapat bimbingan-Nya dan pada akhirnya menjadi hamba yang saleh
Minggu, 16 Februari 2014
Kemampuan Anak Usia 4-6 Tahun dalam Membaca Al-Qur'an dengan Metode Qiro'ati di Taman Pendidikan Al-Qur'an
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa kemampuan membaca al-Quran anak usia 4-6 tahun di TPQ Al-Ishlahul Amin, Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif lapangan dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu gejala tertentu. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi.
Untuk menganalisa data digunakan metode deskriptif kualitatif, yakni uraiannya berdasarkan pada gejala-gejala yang tampak. Agar hasil penilaian berjalan dengan baik, maka proses analisa data tersebut dilakukan dengan mengumpulkan hasil data baik dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi kemudian dikumpulkan sesuai dengan komponen masing-masing kemudian ditarik kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca al-Quran anak usia 4-6 tahun belum sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan metode qiroati. Sebagian santri dalam membaca al-Quran masih jauh dari kaidah ilmu tajwid serta makhorijul hurufnya. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kesulitan anak usia 4-6 tahun dalam melafadlkan salah satu huruf hijaiyyah, yaitu antara huruf ha dan kha , sin dan syin. Hal ini dipengaruhi oleh adanya 1) faktor lingkungan masyarakat, 2) faktor lingkungan sekolah, 4) faktor guru.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan perbaikan metode pembelajaran pendidikan, khususnya bagi Ustadz/Ustadzah di samping itu juga dapat memotivasi anak usia 4-6 tahun dalam membaca al-Quran di Taman Pendidikan al-Quran (TPQ)
Untuk menganalisa data digunakan metode deskriptif kualitatif, yakni uraiannya berdasarkan pada gejala-gejala yang tampak. Agar hasil penilaian berjalan dengan baik, maka proses analisa data tersebut dilakukan dengan mengumpulkan hasil data baik dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi kemudian dikumpulkan sesuai dengan komponen masing-masing kemudian ditarik kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca al-Quran anak usia 4-6 tahun belum sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan metode qiroati. Sebagian santri dalam membaca al-Quran masih jauh dari kaidah ilmu tajwid serta makhorijul hurufnya. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kesulitan anak usia 4-6 tahun dalam melafadlkan salah satu huruf hijaiyyah, yaitu antara huruf ha dan kha , sin dan syin. Hal ini dipengaruhi oleh adanya 1) faktor lingkungan masyarakat, 2) faktor lingkungan sekolah, 4) faktor guru.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan perbaikan metode pembelajaran pendidikan, khususnya bagi Ustadz/Ustadzah di samping itu juga dapat memotivasi anak usia 4-6 tahun dalam membaca al-Quran di Taman Pendidikan al-Quran (TPQ)
Sifat-Sifat Pendidik Perspektif Al-Qur'an Surat Fushshilat Ayat 34-35
Skripsi ini membahas tentang sifat-sifat pendidik perspektif al-Quran surat Fushshilat ayat 34-35. Kajiannya dilatar belakangi oleh banyaknya pendidik yang hanya mengandalkan kemampuan intelektualnya dalam mendidik, tanpa menyeimbangkan dengan aspek lain yang mendukung proses pendidikan, pengajaran dan pembelajaran, seperti sifat serta kepribadian yang baik yang harus dimiliki oleh setiap pendidik. Semua perilaku pendidik sangat berpengaruh terhadap peserta didik, karena peserta didik cenderung mencontoh pendidiknya.
Pendidik yang diharapkan oleh pendidikan Islam yaitu pendidik yang mampu mengoptimalkan semua kemampuan dalam dirinya guna mendapatkan output yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya sifat-sifat pendidik yang terdapat dalam surat Fushshilat ayat 34-35 yang dapat diterapkan oleh setiap pendidik dalam proses pendidikan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau (library research). Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan tema pembahasan dan permasalahannya yang diambil dari sumber-sumber kepustakaan, dalam hal ini ada tiga sumber, yaitu: sumber primer, sumber sekunder dan sumber tersier. Guna mencari jawaban dari beberapa permasalahan yang ada di atas, maka digunakan metode tahlili. Kajian ini menunjukkan bahwa di dalam kandungan surat Fushshilat ayat 34-35 terdapat beberapa sifat-sifat sebagai seorang pendidik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw yang dapat dijadikan teladan bagi para pendidik, yaitu: (1) Memiliki sifat kesabaran, (2) Selalu berbuat baik, (3) Lemah lembut, (4) Kasih sayang terhadap peserta didik, (5) Mampu menahan amarah, dan (6) Memiliki sifat pemaaf, beserta implikasinya dalam system pendidikan Islam.Berdasarkan hasil penelitian diatas, diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan rujukan bagi civitas akademik, para mahasiswa, para tenaga pengajar mata kuliah jurusan dan program studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, terutama bagi para pendidik khususnya dalam pendidikan Islam agar senantiasa mengoptimalkan seluruh kemampuan dalam mendidik baik dari segi intelektual, sifat, serta kepribadiannya sesuai yang dengan ajaran agama Islam yang dalam hal ini menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman utamanya.
Pendidik yang diharapkan oleh pendidikan Islam yaitu pendidik yang mampu mengoptimalkan semua kemampuan dalam dirinya guna mendapatkan output yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya sifat-sifat pendidik yang terdapat dalam surat Fushshilat ayat 34-35 yang dapat diterapkan oleh setiap pendidik dalam proses pendidikan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau (library research). Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan tema pembahasan dan permasalahannya yang diambil dari sumber-sumber kepustakaan, dalam hal ini ada tiga sumber, yaitu: sumber primer, sumber sekunder dan sumber tersier. Guna mencari jawaban dari beberapa permasalahan yang ada di atas, maka digunakan metode tahlili. Kajian ini menunjukkan bahwa di dalam kandungan surat Fushshilat ayat 34-35 terdapat beberapa sifat-sifat sebagai seorang pendidik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw yang dapat dijadikan teladan bagi para pendidik, yaitu: (1) Memiliki sifat kesabaran, (2) Selalu berbuat baik, (3) Lemah lembut, (4) Kasih sayang terhadap peserta didik, (5) Mampu menahan amarah, dan (6) Memiliki sifat pemaaf, beserta implikasinya dalam system pendidikan Islam.Berdasarkan hasil penelitian diatas, diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan rujukan bagi civitas akademik, para mahasiswa, para tenaga pengajar mata kuliah jurusan dan program studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, terutama bagi para pendidik khususnya dalam pendidikan Islam agar senantiasa mengoptimalkan seluruh kemampuan dalam mendidik baik dari segi intelektual, sifat, serta kepribadiannya sesuai yang dengan ajaran agama Islam yang dalam hal ini menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman utamanya.
Pelaksanaan Pendidikan Life Skills di Pondok Pesantren
Skripsi ini membahas pelaksanaan pendidikan life skills di pesantren. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: Bagaimana pelaksanaan pendidikan life skills di Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Ngaliyan Semarang dilihat dari beberapa segi, diantaranya perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi?
Pesantren tersebut dijadikan sebagai sumber data untuk mendapatkan gambaran desain penddikan life skills di pesantren. Datanya diperoleh dengan cara wawancara tak tersetruktur, observasi partisipan, studi dokumentasi dan triangulasi data. Analisis data dalam penelitian ini berupa teknik analisis deskriptif, yaitu metode analisis data yang berupa kata-kata, gambar dan bukan angka.Kajian ini menunjukkan bahwa: Pelaksanaaan pendidikan life skills di Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo ini belum sepenuhnya berjalan dengan baik, masih banyak sekali yang perlu diperbaiki. Hal ini dapat terlihat dalam proses perencanaannya yang kurang matang karena aspek pencatatan belum dilakukan, akan tetapi proses pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan evaluasi pembelajaran kurang efektif karena untuk saat ini baru dalam proses perumusan. Melihat hal tersebut kiranya dipandang perlu adanya penataan kembali agar pendidikan life skills di Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Ngaliyan Semarang dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga mampu menciptakan jiwa santri yang lebih berkualitas dan kompetitif. Pelaksanaan pendidikan life skills di pondok pesantren Darul Falah Be-Songo dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain: (1) tahap perencanaan: meliputi kegiatan perumusan grand desain pesantren dalam bentuk visi-misi pesantrenyang dilakukan oleh pengasuh pesantren serta penyusunan program pembelajaran oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren (2) tahap pelaksanaan: tahap ini terdiri dari pengorganisasian santri, pengelolaan kelas, penentuan metode pembelajaran dan mempersiapkan sarana prasarana serta fasilitas pembelajaran (3) tahap evaluasi. Evaluasi ini dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran life skills untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi santri, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Evaluasi pembelajaran di pondok pesantren Darul Falah Be-Songo berjalan kurang efektif. Selain itu, tidak semua materi dapat dikuantifikasikan, hal ini akan mengurngi kelenturan pesantren.
Pesantren tersebut dijadikan sebagai sumber data untuk mendapatkan gambaran desain penddikan life skills di pesantren. Datanya diperoleh dengan cara wawancara tak tersetruktur, observasi partisipan, studi dokumentasi dan triangulasi data. Analisis data dalam penelitian ini berupa teknik analisis deskriptif, yaitu metode analisis data yang berupa kata-kata, gambar dan bukan angka.Kajian ini menunjukkan bahwa: Pelaksanaaan pendidikan life skills di Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo ini belum sepenuhnya berjalan dengan baik, masih banyak sekali yang perlu diperbaiki. Hal ini dapat terlihat dalam proses perencanaannya yang kurang matang karena aspek pencatatan belum dilakukan, akan tetapi proses pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan evaluasi pembelajaran kurang efektif karena untuk saat ini baru dalam proses perumusan. Melihat hal tersebut kiranya dipandang perlu adanya penataan kembali agar pendidikan life skills di Pondok Pesantren Darul Falah Be-Songo Ngaliyan Semarang dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga mampu menciptakan jiwa santri yang lebih berkualitas dan kompetitif. Pelaksanaan pendidikan life skills di pondok pesantren Darul Falah Be-Songo dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain: (1) tahap perencanaan: meliputi kegiatan perumusan grand desain pesantren dalam bentuk visi-misi pesantrenyang dilakukan oleh pengasuh pesantren serta penyusunan program pembelajaran oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren (2) tahap pelaksanaan: tahap ini terdiri dari pengorganisasian santri, pengelolaan kelas, penentuan metode pembelajaran dan mempersiapkan sarana prasarana serta fasilitas pembelajaran (3) tahap evaluasi. Evaluasi ini dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran life skills untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi santri, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Evaluasi pembelajaran di pondok pesantren Darul Falah Be-Songo berjalan kurang efektif. Selain itu, tidak semua materi dapat dikuantifikasikan, hal ini akan mengurngi kelenturan pesantren.
Pembentukan Akhlak Anak Menurut Al-Qur'an Surat Luqman Ayat 12-19
Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengetahui pembentukan akhlak anak menurut Al-Quran surat Luqman ayat 12-19 Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), yakni berusaha untuk menguak secara konseptual tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pembentukan akhlak anak menurut al-Quran surat Luqman ayat 12-19.
Sumber data dalam penelitian ini yaitu data-data yang diperoleh dari, penafsiran ahli tafsir yang didukung dengan hadits-hadits yang relevan dan sumber data yang dijadikan sebagai alat bantu dalam menganalisis masalah yang muncul, yaitu buku-buku yang ada relevansinya dengan pembahasan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tahlili dan metode analisis isi (content analisis), metode tahlili yaitu metode yang menjelaskan ayat al-Quran dengan meneliti berbagai aspeknya dan meyikapi seluruh maksud yang dikandung, sedangkan analisis isi (content analisis) yaitu suatu teknik penyelidikan yang berusaha untuk menguraikan secara objektif, sistematik dan kuantitatif isi yang termanifestasikan dalam suatu komunikasi . Selain itu juga menggunakan metode pemaknaan kontekstual, yaitu mendudukan keterkaitan antara yang sentral dengan yang perifer adalah terapannya. Yang sentral adalah studi tentang ayatayat Quraniyah dan yang perifer adalah studi ayat-ayat kauniyah (bukti-bukti dalam kehidupan manusia dan alam). Ketiga metode ini digunakan dalam mengumpulkan data-data dari al-Quran, buku-buku atau tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pembentukan akhlak anak yang bersifat umum untuk dianalisis dengan tujuan mengambil kesimpulan yang bersifat khusus. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa pembentukan akhlak anak menurut surat Luqman ayat 12-19 yang meliputi : tujuan pembentukan akhlak anak agar anak mempunyai akhlaqul karimah yang tinggi. Materi pendidikannya terdiri dari pendidikan aqidah, pendidikan birrul walidain, pendidikan salat, pendidikan amar maruf nahi mungkar, dan pendidikan budi pekerti. Metode yang digunakan adalah metode pembiasaan dan keteladanan. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi khazanah ilmu pengetahuan dan bahan informasi serta masukan bagi civitas akademika dan semua pihak yang membutuhkan
Sumber data dalam penelitian ini yaitu data-data yang diperoleh dari, penafsiran ahli tafsir yang didukung dengan hadits-hadits yang relevan dan sumber data yang dijadikan sebagai alat bantu dalam menganalisis masalah yang muncul, yaitu buku-buku yang ada relevansinya dengan pembahasan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tahlili dan metode analisis isi (content analisis), metode tahlili yaitu metode yang menjelaskan ayat al-Quran dengan meneliti berbagai aspeknya dan meyikapi seluruh maksud yang dikandung, sedangkan analisis isi (content analisis) yaitu suatu teknik penyelidikan yang berusaha untuk menguraikan secara objektif, sistematik dan kuantitatif isi yang termanifestasikan dalam suatu komunikasi . Selain itu juga menggunakan metode pemaknaan kontekstual, yaitu mendudukan keterkaitan antara yang sentral dengan yang perifer adalah terapannya. Yang sentral adalah studi tentang ayatayat Quraniyah dan yang perifer adalah studi ayat-ayat kauniyah (bukti-bukti dalam kehidupan manusia dan alam). Ketiga metode ini digunakan dalam mengumpulkan data-data dari al-Quran, buku-buku atau tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pembentukan akhlak anak yang bersifat umum untuk dianalisis dengan tujuan mengambil kesimpulan yang bersifat khusus. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa pembentukan akhlak anak menurut surat Luqman ayat 12-19 yang meliputi : tujuan pembentukan akhlak anak agar anak mempunyai akhlaqul karimah yang tinggi. Materi pendidikannya terdiri dari pendidikan aqidah, pendidikan birrul walidain, pendidikan salat, pendidikan amar maruf nahi mungkar, dan pendidikan budi pekerti. Metode yang digunakan adalah metode pembiasaan dan keteladanan. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi khazanah ilmu pengetahuan dan bahan informasi serta masukan bagi civitas akademika dan semua pihak yang membutuhkan
Hubungan Antara Pemahaman Kitab Tuhfatul Athfal dengan Kefasihan Membaca Al-Qur'an Santri di Pondok Pesantren
Skripsi ini membahas hubungan pemahaman kitab Tuhfatul Athfal dengan kefasihan membaca al-Quran. Kajiannya dilatar belakangi oleh pentingnya membaca al-Quran dengan fasih/tartil, yaitu membaca al-Quran dengan perlahan-lahan tidak terburu-buru dengan bacaan yang baik dan benar sesuai makhraj dan sifat-sifatnya sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu-ilmu tajwid diantaranya yakni kitab Tuhfatul Athfal. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana pemahaman kitab Tuhfatul Athfal Santri Pondok Pesantren Al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang? (2) Bagaimana kefasihan membaca al-Quran Santri Pondok pesantren Al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang? (3) Adakah hubungan antara pemahaman kitab Tuhfatul Athfal dengan kefasihan membaca al-Quran Santri Pondok pesantren Al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang?
Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan survey, dengan menggunakan teknik analisis korelasional, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampel berstrata atau stratified sample dengan subyek penelitian sebanyak 27 responden dari jumlah 108 santri yang mengikuti pembelajaran kitab Tuhfatul Athfal. Pengumpulan data menggunakan metode: 1) dokumentasi yaitu untuk memperoleh data tentang hasil tes kitab Tuhfatul Athfal santri; 2) tes tertulis untuk memperoleh data tentang kefasihan membaca al-Quran santri.Data penelitian yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis korelasi product moment, pengujian hipotesis menunjukkan bahwa: 1) pemahaman kitab Tuhfatul Athfal adalah dalam kategori "cukup" dengan nilai rata-rata adalah 79,167 yang terletak pada interval 78,36-83,78; 2) kefasihan santri dalam membaca al-Quran termasuk dalam kategori "baik"dengan nilai rata-rata adalah 85,556 yang terletak pada interval 85,02-88,35; 3) terdapat hubungan positif antara pemahaman kitab Tuhfatul Athfal dengan kefasihan membaca al-Quran santri di pondok pesantren al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang. Hal ini dapat dilihat pada koefisien rxy adalah 0,612, setelah itu dikonsultasikan pada r tabel dengan taraf signifikan 5% dan 1% dihasilkan 0,381 dan 0,487. Hal ini menunjukkan bahwa rxy˃rt maka hipotesis yang diajukan adalah signifikan dan dapat diterima. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X (pemahaman kitab Tuhfatul Athfal) dan variabel Y (kefasihan membaca al-Quran santri).Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi para civitas akademika, para ustadz-ustadzah khususunya bagi para santri di pondok pesantren
Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan survey, dengan menggunakan teknik analisis korelasional, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampel berstrata atau stratified sample dengan subyek penelitian sebanyak 27 responden dari jumlah 108 santri yang mengikuti pembelajaran kitab Tuhfatul Athfal. Pengumpulan data menggunakan metode: 1) dokumentasi yaitu untuk memperoleh data tentang hasil tes kitab Tuhfatul Athfal santri; 2) tes tertulis untuk memperoleh data tentang kefasihan membaca al-Quran santri.Data penelitian yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis korelasi product moment, pengujian hipotesis menunjukkan bahwa: 1) pemahaman kitab Tuhfatul Athfal adalah dalam kategori "cukup" dengan nilai rata-rata adalah 79,167 yang terletak pada interval 78,36-83,78; 2) kefasihan santri dalam membaca al-Quran termasuk dalam kategori "baik"dengan nilai rata-rata adalah 85,556 yang terletak pada interval 85,02-88,35; 3) terdapat hubungan positif antara pemahaman kitab Tuhfatul Athfal dengan kefasihan membaca al-Quran santri di pondok pesantren al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang. Hal ini dapat dilihat pada koefisien rxy adalah 0,612, setelah itu dikonsultasikan pada r tabel dengan taraf signifikan 5% dan 1% dihasilkan 0,381 dan 0,487. Hal ini menunjukkan bahwa rxy˃rt maka hipotesis yang diajukan adalah signifikan dan dapat diterima. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X (pemahaman kitab Tuhfatul Athfal) dan variabel Y (kefasihan membaca al-Quran santri).Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi para civitas akademika, para ustadz-ustadzah khususunya bagi para santri di pondok pesantren